Cerita tentang Organisasi

00.21 |

Organisasi Sekolah dan Kegiatan Ekstrakurikuler, sebagai titian tangga menjadi Aktivis Sejati
Kalau sekolah hanya belajar adalah itu biasa buat seorang siswa. Jika kuliah hanya menuntut Ilmu (idealnya sih?) apalagi sekedar persyaratan pengumpulan portofolio karir masih biasa. Namun, akan menjadi luar biasa bila seorang siswa/pelajar atau mahasiswa menjadi aktivis organisasi kesiswaan atau organisasi kemahasiswaan. Ungkapan ini bukanlah kalimat agitatif apalagi provokatif. Tak bisa dinafikan seorang aktivis adalah ‘makhluk’ penuntut ilmu yang punya ‘kelebihan’ minimal dalam bersosialisasi, sensitivitas, empati, dan mencari hal-hal di luar kemapanan dan kebiasaan. Meneguhkan jati diri, menggali bakat, memodifikasi minat, meningkatkan kemampuan, menebarkan aroma kepedulian, dan mengepakan sayap pengembangan diri. Terlepas beragamnya kriteria dan penilaian hasil pencapaiannya, tidak dapat dimungkiri seorang aktivis di lembaga pendidikan adalah seorang penuntut ilmu plus.
Penulis pernah mengungkapkan dalam komunitas maya ini, bahwa ada jenjang yang berkesinambungan dan merupakan untaian mata rantai yang panjang tentang aktivis, bahkan seorang aktivis hanya sekedar dari satu mata rantai. Seorang aktivis biasanya terikat dengan organisasi. Ibarat mencari jarum dalam tumpukan jerami, jika sampai menemukan seorang aktivis yang tidak pernah nimbrung dalam organisasi. Sehingga, bermula dari FUNGSIONARIS (pengurus, pengelola organisasi), kemudian menjadi ORGANISATORIS (pemimpin pengembangan sistem dan kultur organisasi), membentuk jadi AKTIVIS, serta diharapkan berwujud PEJUANG, yang kelak insya Allah dianugerahi sebagai PAHLAWAN. Namun, dalam artikel kali ini penulis hanya bertutur sekitar dan seputar peran aktivis.
Ada 3 cerita atau kisah nyata yang penulis alami tentang pentingnya ikut organisasi semasa sekolah. Pertama, ada seorang teman pergaulan di tempat tinggal yang tidak pernah satu sekolah dengan penulis. Akan tetapi, seumuran dengan usia penulis. Kejadiannya waktu sama-sama duduk di SMA. Penulis sekolah di Kebayoran Lama, teman ini di Kebayoran Baru. Alhamdulillah, penulis menjadi Sekretaris Umum OSIS, dia menjadi Ketua Umum OSIS. Nah, apa bedanya dan masalahnya? Sebelum menjadi ‘petinggi OSIS’ penulis pernah memegang jabatan yang sama di SMP sebelumnya, dan ketika masuk SMA penulispun sudah merintis ikut organisasi ekskul yang serius (merintis karir) dan beberapa ekskul tidak serius diikuti (hanya perluasan gaul) dan juga Seksi di salah satu bidang kegiatan OSIS. Teman ini tidak pernah sekalipun ikut organisasi, baik sejak SMP ataupun sebelum “diceburin” menjadi Ketua Umum OSIS. Istilah “diceburin” ini adalah istilah teman-teman aktivis, yang artinya ‘mengerjain’ seseorang untuk menjadi pimpinan organisasi, karena organisasi tidak punya sistem pengkaderan sehingga kesulitan mencari pemimpin. Kalimat sederhananya, daripada kagak ada siape aje dah ! nyang penting masih ada yang mao duduk. Sehari setelah pelantikannya, kata yang pertama keluar dari mulut teman ini, adalah “bingung”. Mau ngapain? Curhat dengan teman-teman nongkrong di lingkungan tempat tinggal.

Kedua, seorang kawan sekelas waktu SMA dan ketika kuliah berada di perguruan tinggi yang sama, hanya berbeda fakultas. Sewaktu SMA kawan ini pernah terdaftar jadi anggota salah satu ekskul, tetapi tidak aktif dan mengundurkan diri dengan sendirinya secara tidak resmi. Karena tidak mengajukan dengan surat. Hal seperti ini sudah lumrah di aktivis ekskul dan sudah biasa. Suatu saat kawan ini bertemu penulis di kampus dalam satu perjalanan ke fakultasnya. Setelah berbasa basi tentang kabar, tanpa ujung pangkalnya, beliau berujar: “Ki, gue nyesel dulu waktu SMA enggak aktif di sekolah!” . Penulis memandang heran dan mengerutkan dahi. “Memang kenapa?” Belum sempat menjawab, kendaraan pas berhenti di depan halte fakultasnya dan kawan kita ini langsung lompat sambil melambaikan tangan.

Ketiga, ternyata kegiatan ekskul tidak hanya ada di sekolah, kalau mau beraktif-aktif ria ada saja kesempatan dan tentu saja juga didorong niat. Kata penceramah kondang, da’i sejuta umat KH. Zainudin MZ (alm.), suatu perbuatan akan dilakukan seseorang jika ada faktor N dan K, yaitu Niat dan Kesempatan. Selain bekerja, di tempat penulis mencari nafkah ada 3 organisasi karyawan, yakni Serikat Pekerja, Koperasi, dan Dewan Kemakmuran Masjid (DKM). Dari ketiga organisasi tersebut penulis ikut menjadi anggota, bahkan untuk DKM sendiri penulis menjadi salah satu deklaratornya. Teman-teman karyawan sebagai aktivis berganti-ganti dari satu organisasi pindah ke organisasi lainnya. Atau merangkap jabatan di lebih dari satu organisasi. Dan ada juga yang pernah menjabat di suatu periode hanya diselingi satu periode kembali menjabat lagi. Penulis hanya fokus di DKM dan tetap berinteraksi dengan aktvis di organisasi lain. Jikapun membantu sekedar menjadi panitia pemilihan pengurus atau forum tertinggi organisasi (dalam sidang-sidang). Penulis selalu menolak (sudah 2X3 kali) menjadi bakal calon pimpinan kedua organisasi (Serikat Pekerja dan Koperasi). Alasan penulis, ketika penulis menjadi lokomotif seberapa gerbong yang sevisi dan semisi dengan penulis. Penulis pernah menantang, akan mau menjadi pimpinan Serikat Pekerja, jika ‘calon kabinet’ siap menguasai UU tentang Tenaga Kerja dan Siap di PHK. Bagi penulis, di serikat tidak cukup punya otot, otak juga perlu diisi. Di Koperasi, penulis akan siap menjadi Ketua dengan program utama: tidak menjual rokok, tidak boleh hutang untuk urusan mulut dan perut, serta dalam pinjaman (bersifat sosial: biaya sekolah, sakit, darurat) tidak dikenakan tambahan dalam pengembalian. Lagi pula penulis berguyon, bahwa Serikat Pekerja, Koperasi, dan DKM ibarat 3 partai di era Orde Baru (PDI, Golkar, PPP), sehingga kalau masih muda dan bersemangat dengan idealisme aktif di Serikat Pekerja, jika ingin ‘cari’ kesempatan dan ‘perbaikan ‘ hidup di Koperasi, kemudian aktif di DKM bila ingin berdakwah, sosial, dan perbaikan sipiritual, dan setelah itu pensiun. Sesuai hukum demokrasi, penulis hanya memegang tampuk selama 2 periode di DKM dan tidak mau diikutsertakan lagi dalam kepengurusan apapun. Pelajaran apa yang dipetik dari ‘ekskul’ di tempat kerja itu? Dari hasil perbincangan, mereka yang menduduki jabatan pengurus tidak pernah ikut organisasi sewaktu sekolah. Sehingga, untuk mengembangkan organisasi perlu waktu dan tenaga ekstra untuk mendidik SDM yang minim dalam dasar-dasar KOMA (kepemimpinan, organisasi, manajemen, administrasi). Ada AD/ART tidak dipakai, karena tidak mengerti. Tidak mengerti, karena tidak pernah dibaca. Konsep berorganisasi asing. Job description pengurus tidak nampak. Program tidak ada. Aktivis yang berganti-ganti jabatan dan organisasi, juga tidak menghasilkan apa-apa terhadap organisasinya hanya memiliki wadah kongres (kongkow ngga’ beres-beres) yang berganti rupa. Cara berpikir yang terlampau praktis, terlalu mengejar target jangka pendek, ajang pemanfaatan ‘orang pintar’ yang ‘tidak benar’ terhadap pengurus yang lugu, atau menitipkan anak buah (di pekerja an) menjadi pengurus untuk mandapatkan ‘hak istimewa’, sehingga pada akhirnya organisasi hanya sekedar ada. Hidup bosan mati tak mau.

Sekedar ilustrasi dari ketiga kisah di atas dapat diambil pemahaman bahwa untuk menjadi seorang aktivis sejati butuh waktu yang panjang dan belajar yang terus menerus. Setiap peroide atau jenjang adalah saat mengukur dan mengevaluasi pengayaan ilmu dan kemampuan praktik. Mau memulai dari jenjang manapun tergantung si aktivis untuk mengejar ketertinggalannya dan mau belajar cepat. Seorang aktivis sejati selayaknya memiliki idealisme tanpa meninggalkan titian realitas kehidupannya. Proporsionalitas antara kebutuhan sendiri dan kepentingan masyarakat. Bukankah, sebaik-baiknya manusia adalah yang paing banyak manfaatnya buat orang lain?

0 komentar:

Posting Komentar